
jakarta, 2 November 2023 | 19.25WIB
BEM PTNU- Menurut data survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2023, tingkat penetrasi Internet Indonesia akan mencapai 78,19% atau 215.626.156 jiwa dari total penduduk 275.773.901 jiwa. Hal ini jelas membuktikan bahwa Indonesia menempati peringkat kelima dalam peringkat pengguna Internet global.Begitu pula dengan media massa yang juga berkembang pesat, mula-mula berupa surat kabar, jurnalis, dan media massa yang dikelola jurnalis. Kini, karena media bisa dikendalikan oleh siapa saja yang pandai mengelolanya, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri banyak organisasi media yang sibuk memberitakan setiap gangguan yang terjadi di lingkungan kita, dengan menggunakan identitas kota, kelompok, dan individu. Media-media tersebut hadir dalam bentuk akun Instagram, Tiktok, Twitter, apa saja.
Perkembangan media massa saat ini sangat mengagumkan, keadaan sosial secara pengetahuan kembali berputar, saat Herbert Marcuse melancarkan kritik atas masyarakat modern yang di tandai dengan kemajuan teknologi. Dengan kemiripan yang sama, pada saat itu Marcuse menganggap kemajuan teknologi seperti krisis kemrosotan masyarakat, disaat itu teknologi muncul sebagai kenisacayaan untuk membawa kemajuan.Apabila saat ini munculnya media media massa dianggap memudahkan informasi dan mempermudah akses dalam segala lini kehidupan.
Media-media ini secara massif membeberkan informasi secara realtime dan up to date. apakah kita pernah berfikir bagaimana realitas sebenarnya yang perlu kita konsumsi melalui media? bisa saja ini menjadi bius ketidak sadaran secara massal, yang menindas kesadaran kritis banyak orang.
Mengenal Herbert Marcuse
Marcuse adalah seorang filsuf Jerman, lahir di Berlin, pada 19 Juli 1898, teoritikus politik dan sosiolog, dikenal sebagai “Bapak Gerakan Kiri Baru”, Marcuse dianggap Nabi oleh para pengikutnya, yang menjadi inspirator bagi Revolusi Mahasiswa tahun 1968, ia dianggap Nabi oleh Kaum Hippy dan Flower Generation, Nabi yang menyuarakan pendapat mereka, Nabi yang mencanangkan gejala yang melanda dan mengancam dunia dan umat manusia. Pemikirannya menjadi pemicu kerusuhan di Amerika dan Eropa Barat. Ia terinspirasi oleh berbagai pemikiran Madzab Frankfurt, seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, Immanuel Kant, Sigmun Freud dan Sayyidina Karl Marx.Melalui pemikiran besarnya Marcuse menilai bahwa teknologi telah memberikan fungsi kemudahan hidup yang besar bagi masyarakat, namun masyarakat modern cenderung kelimpahan atau menerima suatu hal secara berlebih (Affluent).
Media-media massa cenderung memberikan informasi yang berdampak masyarakat lebih konsumtif, secara perlahan menjadi bius untuk membunuh naluri menjadi konformitis. Sehingga kita sebagai lebih cenderung melakukan suatu pekerjaan demi hal yang kita inginkan daripada kita butuhkan, namun apa yang kita inginkan dan butuhkan ini bersifat ini adalah palsu dan bias.Analoginya adalah “Manusia bekerja untuk makan, mensejahterakan hidup, mencukupi biaya pendidikan, dan kehidupan sehari-hari”.
Namun media bergerak seperti bius, menciptakan standarisasi terhadap aspek kebutuhan, bahwa manusia bekerja juga membutuhkan pakaian, kosmetik dan makanan yang mahal, realitanya tidak. Masyarakat sebenarnya membutuhkan hal-hal yang memiliki esensi, tidak sebatas eksistensial semata. Hal ini mendorong manusia lebih operasional, tidak menggunakan akal budi, naluri dan proses pemikiran (dialektis)”Media juga tidak menyampaikan suatu hal yang bisa dicerna secara kritis dan dialektis, lebih dominan menyampaikan informasi yang menarik, diinginkan banyak orang, namun tidak dibutuhkan banyak orang sebagai mana manusia dalam realita sosial yang selayaknya berfikir kritis, hal ini dapat di analogikan bahwa media menyampaikan informasi makanan yang enak, tempat nongkrong yang trendy, pakaian yang keren, daripada memberikan informasi persoalan sosial yang perlu dipecahkan.
Manusia menjadi terasingkan dari manusia itu sendiri, anak-anak, orang muda, orang tua dan lansia kini beralih menghabiskan waktu di dunia maya, terarahkan pada satu tujuan belaka, menjadi manusia satu dimensi, sementara kebebasan individu menjadi terikat, demokrasi disembunyikan dalam tabir demokrasi kontemporer. Teknologi informasi telah kehilangan kesadaran kritisnya. Media yang menyampaikan suatu hal secara kritis lebih ditekan oleh pemangku kepentingan untuk menjaga status quo dan berjalannya sistem sosial yang ada. – Marcuse, One Dimention Man (1964).
Masyarakat Satu Dimensi* Penguasaan media informasi tidak hanya membius masyarakat, dengan menciptakan standarisasi pada satu tujuan aspek saja, namun pada semua lini kehidupan. tetapi juga pada aspek ekonomi, budaya bahkan politik. Teknologi yang diciptakan untuk mengemansipasi manusia dari alam, kini berubah menjadi menindas dan merepresi yang bersembunyi dibalik kebebasan demokrasi. Kesadaran kritis yang terbius oleh standarisasi manusia, yang hidup seperti mesin (operasional) telah mengesampingkan sisi dialektis manusia, perubahan hanya akan dilakukan oleh manusia yang sadar, dan didominasi kelas masyarakat yang terbius, sehingga perubahan kolektif menjadi minim. Manusia bekerja untuk berkontribusi terhadap sistem yang berjalan.Perdebatan, pembicaraan, mempertanyakan hak dan harga diri dinilai tidak berguna dan membuang waktu, menjadi korban penguasa tanpa bertanya siapa mereka, buat apa, dan bagi siapa kontribusi dipersembahkan.
*Kesadaran Kritis yang Terbius* Kesadaran kritis memandang suatu realita sosial secata historis, dengan dasar pengetahuan, bila saja mengutip perkataan Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam buku 60 Tahun PMII “Peradaban dibangun atas struktur pengetahuan yang dibangun”. Dengan demikian ehingga suatu hal yang masuk akal bila terdapat sikap kritik terhadap sistem dan status quo yang berjalan, sehingga kesadaran kritis bagi penguasa harus dicegah dan dimusnahkan, media hanya menyampaikan suatu informasi yang menarik secara menerus, menjadi suatu kebutuhan palsu, masyarakat menjadi Fear of Missing Out (Fomo), daripada harus berfikir secara kritis dan dialektis, penguasa yang melanggengkan hegemoni budaya terhadap masyarakat menjadi satu dimensi adalah bentuk kejahatan peradaban
*Lorong Gelap Pertanyaan* Apakah kelas sosial telah terhapus, sehingga masyarakat lebih dominan dekat dan mengikuti sistem kehidupan sosial yang menjadi satu dimensi sosial? Meleburkan esensi dan hakikat manusia sebagai mahkluk yang berfikir dan bernaluri.Apakah kita menyadari bahwa terlalu menyerap informasi yang tidak kita butuhkan, cenderung mendorong hidup kita melebihi kemampuan dan memuaskan objek lain?Standar kebutuhan hidup kita tidak terukur dengan harus helm Cargloss, Handphone Apple, Outfir bermerk, makan dan minum di Cafee, bukankah ini bagian dari standar yang tercipta dari dunia maya? Kita telah kehilangan diri sendiri untuk berfikir dan bertanya, apa, dimana, mengapa, bagaimana, dan keputusan yang kita ambil.Marcuse memberikan gambaran yang menggelitik, kita hidup diatas kesadaran kita secara bebas, mandiri dan sadar, terlepas dari tindakan untuk memuaskan pihak lain.
Kita harus benar-benar menyadari bahwa hidup tidak memiliki standarisasi pihak lain, dan mari kita fikirkan “Sejak kapan anak kecil dikatakan cantik dan tampan apabila menggunakan bedak berlebihan, apakah pemilik pabrik bedak telah membius melalui media massa, public figure terhadap ibu-ibu, supaya pabrik tetap berjalan dan menaikan nilai produksi, dan mendapatkan keuntungan lebih besar?”
Akhirul statement, media massa yang dekat dengan penguasa, cenderung tidak menyampaikan informasi secara kritis, menebar bius kesadaran kritis, masyarakat lebih berfikir makan apa, pakaian apa, nongkrong dimana daripada mempertanyakan suatu realitas yang harus diubah secara kolektif.
Kontributor : Fajar Wicaksono (UNUGIRI)
Editor : Muhammad Ikhsanurrizqi





Leave a Reply